Deteksi Dini Bullying dan Pengelolaannya

IMG_4241Selamat pagi mitra healthier…

Talkshow Jendela Informasi Wanita (JELITA) RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara dan Radio Suara Banjarnegara, Sabtu 20 Januari 2018 menghadirkan Gones Saptowati, S.Psi., MA Psi., dengan tema deteksi dini bullying dan pengelolannya.

Akhir-akhir ini berita kasus bullying di Indonesia kembali marak diberitakan. Bahkan menurut beberapa harian online, Indonesia menduduki peringkat tertinggi kasus kekerasan di sekolah, yaitu sebanyak 84 persen. Angka ini berdasarkan data yang dirilis Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menurut survei International Center for Research on Women (ICRW). Angka ini jauh lebih tinggi dari Vietnam (79 persen), Nepal (79 persen), Kamboja (73 persen), dan Pakistan (43 persen). Diperkirakan  7 dari 10 anak di Indonesia pernah mengalami bullying atau kekerasan baik dalam bentuk fisik, verbal maupun psikis. Angka  kongkrit kasus bullying di Banjarnegara sendiri belum diketahui pasti. Namun ada kecenderungan kasus tersebut sebagai fenomena gunung es, dimana yang dilaporkan hanya sebagian kecil dari banyak kasus yang sebenarnya terjadi.

Bullying atau perundungan adalah tindakan mengintimidasi seseorang melalui sikap, tindakan, dan perkataan. Sebuah perilaku dikatakan merundung atau membuly jika adanya power imbalance (posisi tidak setara), adanya pihak yang lebih kuat dari lainnya dan adanya salah satu pihak yang disakiti dengan sengaja, terjadi berulang dalam kurun waktu tertentu dan berintensi. Beberapa alasan orang melakukan bullying kurang peka/kurang empati, mencari perhatian, modelling perilaku keluarga, mendapatkan reward karena membully, tidak ada kontrol emosi, merasa tak berdaya, orang lain juga membully, serta adanya rasa cemburu atau frustasi.

Dampak psikis bullying diantaranya: hilang fokus dalam belajar, mengalami luka yang tidak wajar, muncul perilaku yang tidak biasa, sering kehilangan barang-barang, perubahan pola makan, rendah diri berlebihan, lebih sering menyendiri saat ada aktivitas bersama, tidak mampu mengontrol emosi (marah berlebihan, sedih berlebihan), dan tidak mampu beradaptasi dengan baik di lingkungan sosial/sekolah. Dampak lainnya yang bisa terjadi yaitu kesulitan untuk tidur, mengompol, mengeluh sakit kepala atau sakit perut, tidak nafsu makan atau muntah-muntah, takut pergi ke sekolah, sering pergi ke UKS, menangis sebelum dan sesudah sekolah, tidak tertarik pada aktivitas sosial yang melibatkan murid lain, sering mengeluh sakit sebelum pergi ke sekolah pada guru, harga diri yang rendah, perubahan drastis pada sikap, cara berpakaian atau kebiasaan dan adanya luka lecet.

Untuk mengelola bullying yang terjadi di sekolah dapat dilakukan antara lain dengan mengamati perilaku anak yang menjadi korban, memenuhi kebutuhan emosionalnya (kebutuhan untuk didengarkan dan dihargai), serta selalu terhubung dengan orang tua. Sedangkan bagi pelaku dilakukan dengan memberikan konseling lebih lanjut karena bisa jadi pelaku sebenarnya juga adalah korban, serta memberikan konsekuensi logis dari perilakunya.

IMG_4221Kebanyakan yang terjadi pelaku bullying juga pernah dibully sehingga melakukan tindakan balas dendam dengan membully orang lain. Intinya adalah pelaku bully sendiri kemungkinan besar memiliki luka batin yang belum terobati. Demikian juga dengan korban yang juga akan mendapatkan luka batin, bahkan nekat bunuh diri. Apabila dibiarkan terus terjadi, tentu rantai ini tak akan pernah putus. Hanya orang yang berhati besarlah yang mampu memutusnya. Dalam arti berhati besar untuk mampu memaafkan orang yang membullynya lalu tidak melakukan hal yang sama ke orang lain.

Untuk mencegah dan mengatasi tindak kekerasan (bullying) dapat dilakukan dengan mengembangan suasana yang humanis baik di lingkungan rumah, sekolah maupun pergaulan sehari-hari, kembangkan budaya teman sebaya yang positif, kembangkan dan tegakkan aturan sekolah, serta mengembangkan hubungan positif antar individu maupun dengan masyarakat sekitarnya.

(PKRS RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *