MENGENAL HIV/AIDS

peduli-aids-pmi-dan-obat-aidsHIV dan AIDS, kedua singkatan ini seringkali disebit secara bersama-sama, sehingga biasanya dianggap sama artinya. Padahal keduanya merupakan kondisi atau diagnose yang berbeda. HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sel darah putih di dalam tubuh (limfosit) yang mengakibatkan turunnya kekebalan tubuh manusia. Sel darah putih berfungsi sebagai sistem kekebalan tubuh, dengan cara melawan infeksi dan penyakit yang masuk ke dalam tubuh. Apabila HIV membunuh sel darah putih, maka sistem kekebalan tubuh manusia akan lemah dan tubuh mudah terserang penyakit. Orang yang dalam darahnya terdapat virus HIV dapat tampak sehat dan belum membutuhkan pengobatan. Namun orang tersebut dapat menularkan virusnya kepada orang lain.

Sedangkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah sekumpulan gejala penyakit  yang disebabkan oleh penurunan kekebalan tubuh. Orang yang terkena HIV, bila tidak mendapat pengobatan, akan menunjukkan tanda-tanda AIDS dalam waktu 5-10 tahun.

Gejala HIV/AIDS

  1. Gejala Utama
  • Demam berkepanjangan ±3 bulan
  • Diare kronis (berulang atau terus menerus) 1 bulan
  • Penurunan berat badan 10 % dalam 3 bulan
  1. Gejala Minor :
  • Batuk > 1 bulan à diobati TBC Paru à 2 bulan tidak ada perbaikan klinis
  • Infeksi jamur candida albicans pada mulut dan tenggorokan
  • Pembengkakan kelenjar getah bening di seluruh badan
  • Adanya herpes Zooster berulang
  • Bercak-bercak gatal di seluruh tubuh

Tahapan HIV/ AIDS

Setiap orang yang terinfeksi HIV cepat atau lambat akan mengalami tahap AIDS. Secara lengkap tahapan sejak terinfeksi HIV hingga tahap AIDS meliputi:

images

  1. Tahap Jendela (Window Peroid). Tahap jendela merupakan masa ketika HIV sudah masuk ke dalam tubuh seseorang, tapi tubuh belum membentuk antobodi. Akibatnya ketika menjalani tes HIV, hasilnya negative. Lama peroide jendela berkisar 0-6 bulan sejak terinfeksi HIV. Meskipun hasil tes negative, namun jika seseorang yang sudah terinfeksi HIV, maka ia sudah dapat menularkan ke orang lain
  2. Masa HIV tidak begejala (Asimptomatik). Belum ada gejala apapun secara fisik. Tubuh masih dapat bekerja secara normal
  3. Tahap AIDS (Simptomatik). Pada tahap ini mulai muncul gejala-gejala penyakit ikutan (oportunistik) sebagai akibat kekebalan tubuh sudah semakin berkurang. Tahap awalnya yaitu keringat berlebihan di malam hari, diare terus menerus, flu berkepanjangan. Tahap stadium lanjut yaitu radang paru-paru, kanker kulit, infeksi otak dan gejala penyakit oportunistik lainnya.

Penularan HIV/AIDS

Beberapa cara penularan HIV/AIDS diantaranya yaitu melalui hubungan seksual dengan penderita yang positif mengidap HIV; penularan dari ibu hamil yang positif HIV AIDS kepada janin yang dikandungnya; lewat cairan darah (melalui transfusi darah/produk darah yang sudah tercemar HIV, lewat pemakaian jarum suntik yang sudah tercemar HIV, yang dipakai bergantian tanpa disterilkan, misalnya pemakaian jarum suntik dikalangan pengguna narkotika suntikan, melalui pemakaian alat tusuk yang berulangkali dalam kegiatan lain, misalnya: pemakaian alat tusuk yang menembus kulit, misalnya alat tindik, tato, dan alat facial wajah), lewat Air Susu Ibu (penularan ini dimungkinkan dari seorang ibu hamil yang HIV positif  kemudian menyusui bayinya dengan ASI).

HIV tidak menular  melalui aktifitas salaman, berpelukan, bersentuhan, penggunaan kamar mandi/toilet bersama, penggunaan kolam renang, penggunaan alat makan/minum bersama, gigitan serangga, makan makanan buatan orang HIV dan menghapus air mata. Kelompok yang rentan terkena HIV/ AIDS yaitu Pekerja Seks Komersil (PSK), pengguna napza jarum suntik (penasun), LSL (lelaki yang berhubungan seksual dengan lelaki lain, Waria dan pengguna jarum suntik untuk tindik dan pembuatan tattoo.

Menurut Elizabeth Bozkey Ph.D, dalam about.std.com, beberapa alasan mengapa pria homoseksual lebih rentan mengalami HIV/AIDS di bandingkan pria normal yaitu:

  1. Hubungan seksual lewat anal memungkinkan transmisi HIV dari orang yang terinfeksi sebanyak 18x lebih tinggidibandingkan dengan hubungan seks pervaginam. Dalam setiap kali berhubungan seks anal tanpa pengaman, seseorang mengalami peningkatan risiko sebanyak 1.4%
  2. Pria homoseksual yang berperan sebagaimana wanita dalam hubungan seks memiliki risiko lebih tinggi untuk mendapat infeksi HIV. Sementara saat ia berperan sebagaimana laki-laki, ia memiliki peluang lebih besar dalam menularkan infeksi HIV. Dengan dua peran yang bisa dilakukan oleh pria homoseksual ini, semakin memperbesar peluang tersebarnya HIV diantara kelompok tersebut
  3. Stigma yang diterima oleh kaum homoseksual membuat sebagian dari kelompok ini enggan berobat dan mendapatkan akses ke fasilitas kesehatan. Akibatnya akan terjadi keterlambatan diagnosis dan pemberian pengobatan. Padahal pengobatan dengan obat antiretroviral (ARV) merupakan faktor penting pencegahan penularan. Karena dengan level virus tidak terdeteksi, penularan akan menurun drastis.

Cara untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi HIV atau tidak yaitu melakukan tes HIV. Jika hasil tes posistif, maka diduga terinfeksi HIV.  Namun jika hasil tes negative belum tentu seseorang tidak terinfeksi HIV. Ada kemungkinan orang tersebut masih pada “tahp jendela”, sehingga belum bisa terdeteksi. Tes harus dilakukan lebih dari satu kali. Walaupun hasilnya negative tapi jika seseorang sudah terinfeksi HIV, maka ia sudah dapat menularkan ke orang lain.

Upaya mencegah penularan HIV/AIDS biasanya disingkat ABCDE, yaitu: Abstinence/ Absen (tidak melakukan seks bagi yang belum menikah dan bagi yang sudah menikah tapi saat jauh dari pasangan), Be Faithful (Setia) (tidak gonta ganti pasangan), Condom (memakai kondom saat melakukan hubungan), Drugs (tidak mengkonsumsi narkoba), dan Education (aktif mencari informasi yang benar).

(PKRS RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara, dikutip dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *