PENYAKIT PARU OBSTRUKSI KRONIS

IMG_3920 copyPenyakit Paru Obstruksi Kronis  (PPOK) merupakan penyakit peradangan paru yang berkembang dalam jangka waktu panjang. Pada penyakit ini penderita mengalami kesulitan bernafas karena terhalang pembengkakan dan lendir atau dahak yang menghalangi aliran udara dari paru-paru. Sebagian besar pederita PPOK adalah orang yang berusia paruh baya dan perokok. Penderita penyakit ini berisiko untuk mengalami penyakit jantung dan kanker paru-paru.

Gejala Penyakit Paru  Obstruktif  Kronis

  • Batuk berdahak yang tidak kunjung sembuh dengan warna lendir dahak berwarna agak kuning atau hijau.
  • Pernapasan sering tersengal-sengal, terlebih lagi saat melakukan aktivitas fisik.
  • Mengi atau napas sesak dan berbunyi.
  • Lemas.
  • Penurunan berat badan.
  • Nyeri dada
  • Kaki, pergelangan kaki, atau tungkai menjadi bengkak.
  • Bibir atau kuku jari berwarna biru.

Penyebab dan Faktor Risiko Penyakit Paru Obstruktif Kronis

  • Rokok, Diperkirakan, sekitar 20-30 persen perokok aktif menderita PPOK. Menghentikan kebiasaan merokok dapat mencegah kondisi PPOK bertambah parah.
  • Pajanan polusi udara,
  • Usia.  Gejala penyakit umumnya muncul di usia 40 tahunan.
  • Penyakit asma.  Penderita penyakit asma, terutama yang merokok, rentan mengalami penyakit paru obstruktif kronis.
  • Faktor keturunan

Diagnosis Penyakit Paru Obstruktif Kronis

IMG_3943copyUntuk menentukan diagnosa PPOK, Dokter akan menanyakan gejala, meninjau riwayat kesehatan (termasuk riwayat merokok), serta memeriksa kondisi fisik pasien . Pemeriksaan fisik terutama pada paru-paru. Selain itu dilakukan tes fungsi paru-paru (spirometri). Jika dibutuhkan dilakukan Tes darah, Analisis gas darah arteri, Foto Rontgen dada, CT scan, Elektrokardiogram (EKG) dan ekokardiogram, pengambilan sampel dahak.

Pengobatan Penyakit Paru Obstruktif Kronis

  • Penggunakan obat-obatan, PPOK termasuk penyakit yang belum bisa disembuhkan. Pengobatannya bertujuan untuk meringankan gejala dan menghambat perkembangan penyakit
  • Fisioterapi dada
  • Tindakan operasi

Upaya yang bisa dilakukan oleh penderita untuk menghambat bertambahnya kerusakan pada paru-paru:

  • Berhenti merokok atau menghindari pajanan asap rokok. Ini merupakan langkah utama agar PPOK tidak bertambah parah.
  • Menghindari polusi udara, misalnya asap kendaraan bermotor.
  • Memasang alat pelembap udara ruangan (air humidifier).
  • Menjaga pola makan yang sehat.
  • Rutin berolahraga.
  • Menjalani vaksinasi secara rutin, contohnya vaksin flu dan vaksin pneumokokus.
  • Memeriksakan diri secara berkala ke dokter agar kondisi kesehatan bisa tetap terpantau.

Penyakit Asma dan PPOK sering tertukar karena gejala PPOK dan asma bisa tampak serupa, yaitu batuk kronis, mengi, dan sesak napas. Perbedaannya dapat dilihat pada faktor usia, faktor pemicu, dan fungsi paru. Pada penyakit Asma didiagnosis sejak masih kanak-kanak, memburuk ketika penderitanya terpapar faktor alerginya, dan dapat normal seperti semula. Sedangkan pada PPOK muncul gejala mulai dewasa sekitar usia 40 tahun, kondisinya akan semakin memburuk dan tidak dapat normal kembali.

(PKRS RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara, disampaikan oleh dr. Estiningtyas Wardhani, Sp.P sat edukasi kesehatan kelompok)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *