DEMAM TIFOID PADA ANAK

Semangat pagi mitra healthier…

IMG_5203editMinggu ini edukasi kesehatan kelompok Tim PKRS RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara diisi oleh dr. Dyah Perwitasari, MSc, Sp.A. Materi yang dibahas yaitu terkait dengan demam tifoid pada anak.

Demam tifoid, oleh orang awam sering kali disebut tipus, merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman “Salmonella typhii”. Pada anak, periode inkubasi 5-40 hari dengan rata-rata antara 10-14 hari. Prevalensi 91% kasus demam tifoid terjadi pada umur 3 – 19 tahun. Kelompok usia yang rentan menderita demam tifoid adalah anak pada kelompok usia 5 tahun ke atas. Pada usia tersebut, anak sudah mulai masuk sekolah dan mengenal jajanan di luar rumah. Makanan atau jajanan yang kurang bersih dapat mengandung kuman S. typhii dan masuk ke tubuh anak jika termakan.

Demam tifoid dapat ditularkan dari satu orang ke orang lain. Demam tifoid menular melalui kotoran (fecal-oral) dan sangat erat kaitannya dengan higienisitas seseorang. Penularan sebagian besar melalui makanan/minuman yang tercemar oleh kuman yang berasal dari penderita atau pembawa kuman. S. typhii dapat hidup di dalam tubuh manusia. Manusia yang terinfeksi S. typhii dapat mengeksresikan melalui sekret saluaran napas, urin dan tinja dalam jangka waktu yang bervariasi. S. typhii yang berada di luar tubuh manusia dapat hidup untuk beberapa minggu apabila berada di dalam air, es, debu dan kotoran yang kering. S. typhii mudah dimatikan dengan klorinasi dan pasteurisasi (suhu 63°C).

Anak yang menderita demam tifoid, umumnya memiliki gejala demam lebih dari 1 minggu. Selain itu, keluhan yang dominan dialami oleh anak adalah keluhan pada saluran cerna, seperti mual, muntah, mencret, atau pada anak yang lebih besar terkadang sembelit/susah BAB. Gejala-gejala seperti ini juga dapat muncul pada infeksi saluran cerna yang lain. Oleh karena itu, sering kali orang tua menyebutnya sebagai “gejala tipus”. Namun, yang membedakan adalah pada demam tifoid, suhu tubuh anak ketika demam perlahan-lahan semakin tinggi setiap harinya (step ladder), terutama menjelang sore misalnya hari ini suhu saat demam 38°C, keesokan harinya 38,5°C, keesokan hari kemudian 39°C, dan seterusnya. Demamnya juga sulit turun walaupun sudah diberikan obat penurun panas. Pada demam tipoid berat dapat dijumpai penurunan kesadaran, kejang dan icterus. Anak sering mengigau (delirium), malaise, tidak napsu makan, nyeri kepala, nyeri perut, diare atau konstipasi, muntah, perut kembung. Pada anak yang mengeluh demam 1-2 hari, sebaiknya orang tua lebih waspada terhadap demam berdarah dengue daripada demam tifoid, karena gejala pada demam berdarah dengue lebih cepat memberat dibandingkan tifoid.

Demam tifoid berbahaya di akhir minggu kedua demam atau awal minggu ketiga, karena sering kali muncul komplikasi pada periode tersebut. Komplikasi akibat infeksi tifoid salah satunya berupa peritonitis dan terbentuknya perdarahan pada saluran pencernaan atau perforasi. Komplikasi tersebut disebabkan oleh kuman S. typhii yang “menggerogoti” lapisan mukosa usus. Komplikasi lain dari demam tifoid umumnya berhubungan dengan gejala tifoid. Anak yang sedang sakit demam tifoid sering kali tidak mau minum dan muntah-muntah. Jika tidak diberikan minum sesering mungkin dapat mengakibatkan dehidrasi dan dapat berlanjut menjadi penurunan kesadaran dan gejala lain yang lebih berat. Selain itu, demam dapat mengakibatkan kejang demam pada anak balita.

Bila orang tua mendapati anaknya sedang demam, jangan panik. Berikan obat penurun panas (parasetamol) saat anak sedang demam. Untuk meredakan demam, kompres anak dengan air hangat di daerah lipat ketiak dan pangkal paha selama 15 menit.  Jangan lupa berikan anak minum sesering mungkin agar tidak dehidrasi. Anak sebaiknya melakukan tirah baring/bed rest, supaya tidak semakin demam dan anak dapat beristirahat. Tidak ada pantangan makanan pada anak yang sedang demam tifoid. Sayur dan buah masih boleh diberikan, tetapi yang paling penting adalah minum sesering mungkin. Jus, susu, atau minuman lain yang disukai oleh anak boleh diberikan. Bila dalam tiga hari kondisi anak tidak kunjung membaik, bawalah anak berobat ke dokter setempat. Pengobatan pada demam tifoid selain obat penurun panas, juga meliputi terapi antibiotik. Lama pengobatan dengan antibiotik bervariasi, tergantung jenis antibiotik dan ketahanan/resistensi kuman terhadap antibiotik. Pada umumnya, anak terinfeksi kuman tifoid yang sudah mendapat terapi antibiotik menunjukkan tanda-tanda perbaikan setelah hari kelima pengobatan. Pengobatan juga tidak harus dilakukan di ruang rawat inap. Anak masih dapat berobat jalan selama anak tersebut masih dapat minum. Namun, bila anak sama sekali tidak mau minum dan lemas, anak harus dirawat inap.

Infeksi kuman tifoid berhubungan dengan kebiasaan seseorang dalam menjaga kebersihan dirinya. Oleh karena itu:

  • Hindarkan anak dari kebiasaan jajan sembarangan.
  • Memasak air sampai mendidih selama 15 menit agar kuman di dalamnya mati.
  • Bila menggunakan air minum dari galon, perhatikan pula air isian dari galon tersebut. Biasanya air refill dari gallon dipanaskan sampai suhu 70°C saja dan tidak semua kuman mati.
  • Selain itu, budayakan kebiasaan mencuci tangan setelah bermain dan sebelum makan agar kuman tidak masuk ke mulut.
  • Saat sekarang ini, vaksin untuk tifoid sudah tersedia dan direkomendasikan oleh Satuan Tugas Imunisasi PP IDAI untuk diberikan mulai anak usia 2 tahun, diulang setiap 3 tahun.

(PKRS RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara, disampaikan saat edukasi kesehatan kelompok di RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *