INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK)

Semangat pagi mitra healthier,

IMG_6703copyInfeksi Saluran Kemih (ISK) adalah infeksi akibat berkembangbiaknya mikroorganisme didalam saluran kemih, yang dalam keadaan normal  air kemih tidak mengandung bakteri, virus atau mikroorganisme lain. Infeksi saluran kemih dapat terjadi baik pada pria maupun wanita dari semua umur, dan dari kedua jenis kelamin ternyata wanita lebih sering menderita infeksi saluran kemih daripada pria (Sudoyo Aru,dkk. 2009). Infeksi saluran kencing merupakan keadaan dimana adanya suatu proses peradangan yang akut ataupun kronis dari ginjal ataupun saluran kemih yang mengenai pelvis ginjal, jaringan interstisial dan tubulus ginjal (pielonefritis), atau kandung kemih (Cystitis), dan Urethra (Uretritis).

PENYEBAB

Penyebab utama ISK adalah karena adanya jamur, virus dan bakteri yang masuk kedalam saluran kencing.

Sedangkan beberapa faktor predisposisi terjadinya ISK, yaitu :

  1. Kebersihan alat vital yang kurang baik
  2. Sisa urin dalam kandung kemih akibat ketidakmampuan mengosongkan/pengosongan kandung kemih yang kurang efektif atau tidak tuntas
  3. Sering menahan kencing
  4. Kurang minum
  5. Kurang menjaga kebersihan dan kesehatan daerah seputar         saluran kencing.
  6. Cara cebok yang salah
  7. Memiliki riwayat penyakit kelamin.
  8. Nutrisi yang kurang baik

GEJALA

  1. Anyang-anyangan atau rasa ingin buang air kecil lagi
  2. Sering kencing dan kesakitan saat kencing (dysuria)
  3. air urinnya bisa berwarna putih, coklat, atau kemerahaan dan baunya sangat menyengat.
  4. Warna urin kental atau pekat seperti air teh, kadang kemerahan bila ada darah (hematuria).
  5. Nyeri pada pinggang
  6. Demam atau mengigil, yang dapat menandakan infeksi telah mencapai ginjal (diiringi rasa nyeri disisi bawah belakang tulang rusuk, mual, atau muntah)
  7. Peradangan kronis pada kandung kemih yang berlanjut dan tidak sembuh-sembuh dapat menjadi pemicu terjadinya kanker kandung kemih
  8. Pada bayi usia 2 bulan (neonatus), gejalanya dapat menyerupai infeksi atau sepsis berupa demam, apatis, berat badan tidak naik, muntah, mencret, anoreksia.
  9. Pada anak gejalanya lebih khas seperti sakit waktu kencing, frekuensi kencing meningkat, nyeri perut atau pinggang, mengompol, anyang-anyangan (polakisuria), dan bau urin yang sangat menyengat.

KOMPLIKASI

Apabila Infeksi Saluran Kemih (ISK) tidak segera ditangani bisa menimbulkan sepsis yaitu terjadi infeksi di seluruh tubuh.

PENATALAKSANAAN ISK

  1. Penatalaksanaan farmakologi
    • Penanganan Infeksi Saluran Kemih (ISK) yang ideal adalah dilihat dari penyebabnya.
    • Antibiotik sesuai kultur, bila hasil kultur belum ada dapat berikan antibiotik antara Cefotaxime, Cefotaxime, Kotrimoxsazol, Trimetopirm, Fluoroquinolon, Amoksisiklin, Diksisiklin, Aminoglikosid.
    • Bila ada tanda- tanda urosepsis dapat diberikan    Imipenem atau kombinasi Penisilin dengan Aminoglikosida.
    • Untuk ibu hamil dapat diberikan Amoksisilin, Nitrofurantoin atau Sefalosporin.
  2. Penatalaksanaan non farmakologi
    • Istirahat yang cukup
    • Diet: perbanyak vitamin A dan C untuk    mempertahankan epitel saluran kemih
    • Menjaga status gizi pasien agar tetap        seimbang untuk meningkatkan daya tahan tubuh
    • Berikan kompres air hangat pada bagian   abdomen untuk mengurangi rasa tegang  pada kandung kemih

PENCEGAHAN

  • Perbanyak minum air putih 8-10 gelas per haria
  • Mengkonsumsi vitamin C secara teratur karena dapat mengurangi jumlah bakteri dalam urin
  • Hindari konsumsi minuman alkohol, makanan yang berempah, dan kopi karena semua makanan ini dapat mengiritasi kandungan kemih.
  • Segera buang air kecil jika keinginan itu muncul
  • Cucilah alat kelamin sebelum dan sesudah hubungan kelamin.
  • Jalani hidup bersih dengan mencuci bagian anus dan genitalia sekurang kurangnya sekali sehari
  • Jika memakai kateter lakukan penggantian, perawatan atau cek secara teratur
  • Bagi Wanita
    • Kenali faktor penyebab yang dapat menimbulkan ISK
    • Basuh bagian kemaluan dari arah depan ke belakang (anus) agar bakteri tidak bermigrasi dari anus ke vagina atau uretra
    • Cucilah alat kelamin setelah melakukan senggama diikuti dengan terapi antimikroba takaran tunggal bila diperlukan
    • Jika sedang hamil segera lakukan pemeriksaan untuk mendapatkan pengobatan dengan sesegera mungkin
    • Ganti pembalut
    • Hindari pemakaian celana ketat
    • Hindari penggunaan parfum, deodorant, atau produk kebersihan wanita lainnya pada bagian kelamin karena dapat berpotensi mengiritasi uretra

(PKRS RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara, disampaikan oleh Samirin, S.Kep, Ns. saat edukasi kesehatan)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *