DETEKSI DINI SKOLIOSIS

IMG20200606091633 copy

Apa itu Skoliosis?

  • Skoliosis merupakan kelainan tulang belakang, bengkok ke samping > 10ᵒ, seperti huruf C atau S
  • Tampak seperti benjolan (punuk) pada bagian punggung / pinggang, kiri atau kanan.
  • Sering terjadi pada anak-anak, perempuan > laki-laki 9 : 1
  • Prevalensi di Indonesia : 4-5 % jumlah penduduk

skiliosis

Penyebab Skoliosis ?

  • Genetik yaitu terdapat riwayat skoliosis pada keluarga
  • Kelainan saraf / otot, trauma, keganasan, infeksi tulang belakang & proses degenerasi.
  • Idiopatik atau belum diketahui pasti penyebabnya (80-90 %)
  • Kebiasaan buruk saat aktivitas : postur duduk yang salah saat menulis / membaca dengan posisi duduk miring, memakai tas berat 1 sisi

Derajat skoliosis

Pemeriksaan X-ray à tentukan sudut Cobbs

  • Ringan : 20 % à latihan dan olahraga
  • Sedang : 20 – 40 % à pemakaian brace
  • Berat : ≥ 40 % à indikasi operasi

Gejala

  1. Anak-anak : tidak nyeri karena postur masih ideal à jalan miring, pundak asimetris, kaki panjang sebelah
  2. Dewasa : muncul keluhan pegal / nyeri
  3. Pentingnya deteksi dini :
    • Mencegah risiko progresivitas atau pertambahan derajat skoliosis dengan derajat rendah
    • Tingkat kebutuhan operasi bisa menurun karena tata laksana pemasangan brace (apabila masih 20-40 derajat).
  4. Skoliosis dicegah pertambahannya dengan deteksi dini

Deteksi Dini

  1. Dilakukan pada usia rawan : perempuan 10 dan 12 tahun, laki-laki usia 12-13 tahun
  2. Posisi berdiri :
    lihat dan bandingkan asimetri leher, bahu, tulang belikat, jarak lengan dengan batang tubuh, pinggul dan pinggang yang miring. Normal : sisi kanan simetris dengan sisi kiri
  3. Posisi membungkuk : ada tonjolan satu sisi/ kemiringan satu sisi
  4.  Aplikasi Scoliometer

Kapan ke dokter ?

  1. Jika terdapat satu kelainan ringan à pemeriksaan ulang setelah 6 bulan – 1 tahun.
  2. Jika terdapat ≥ 3 kelainan maka kemungkinan besar menderita skoliosis, segera ke dokter
  3. Kelainan tulang belakang disertai gangguan pernafasan

Penanganan

  1. Periksakan ke dokter jika muncul gejala dan ada riwayat keluarga dengan tulang bengkok ke samping
  2. Observasi tulang bengkok 3 -6 bulan untuk mengetahui perkembangannya
  3. Pemeriksaan Rontgen tulang belakang yang dicurigai bengkok à menentukan derajat skoliosis
  4. Berdasarkan derajat skoliosis :
    • Ringan : latihan dan olahraga renang
    • Sedang : pemakaian brace, penyangga tulang belakang, exercise
    • Berat : indikasi operasi
  5. Keluhan nyeri : obat analgetik, suntikan kortikosteroid
  6. Gangguan pernafasan : operasi

Komplikasi Skoliosis ?

  • Gangguan jantung dan paru-paru : tulang iga menekan jantung dan paru-paru.
  • Nyeri punggung kronis : biasanya dialami penderita dewasa.
  • Mengganggu penampilan : kondisi skoliosis memburuk, penampilan terganggu, misalnya posisi bahu atau pinggul tidak simetris, tulang iga menonjol, serta posisi pinggang dan batang tubuh bergeser.
  • Kerusakan saraf tulang belakang : skoliosis dapat menekan saraf tulang belakang, sehingga menimbulkan  kerusakan saraf tulang à dapat menimbulkan berbagai gangguan, seperti impotensi, inkontinensia urine, inkontinesia tinja, kesemutan, atau kelemahan pada tungkai.

KESIMPULAN

  • Deteksi dini skoliosis oleh orang tua sangat penting à segera tertangani dan tidak bertambah parah
  • Skrining / pemeriksaan kesehatan anak sekolah sebaiknya rutin dilakukan à program tahunan

(PKRS RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara, disampaikan oleh dr. Elien W, Sp. KFR saat Talkshow Online Radio Suara Banjarnegara)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *